Selasa, 15 Mei 2012

EQ dan SQ


EQ dan SQ
By Darmansyah


1.         Kecerdasan Emosional
Guru yang memiliki sikap profesional sebagai pendidik akan selalu dirindukan oleh siswanya. Guru profesional  mampu membangun hubungan dengan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bersemangat, sehingga pembelajarannya memberi kepuasan (satisfaction), kebahagiaan (happiness) dan kebanggaan (dignities) dengan  dukungan pelayanan hi-touch and hi-tech.  

Pertemuan BKS PTN wilayah barat yang dilaksanakan di Cipayung bulan Oktober 2003 (Manullang: 2004)  menyepakati  bahwa akan dilaksanakan revisi terhadap konten dan konteks pembelajaran MKDK dengan memasukkan esensi pendidikan untuk membentuk kepribadian. Pendekatan yang ditempuh  adalah  pendekatan membangun kepribadian dengan bertumpu pada pengembangan dimensi intelektual (IQ), emosional (EQ) dan spritual (SQ). Pada pertemuan tersebut disepakati untuk mengembangkan bahan ajar  setiap mata kuliah yang dimaksud. Pembahasan yang dilakukan pada pertemuan ini  dalam upaya pengembangan dan implementasi Ilmu Pendidikan di LPTK.

M.Utsman Najati (2003:44) mengatakan bahwa kecerdasan emosional menurut Sunnah Nabi adalah lolos dari jebakan setan: mengendalikan amarah dan kekacauan pikiran, mengendalikan motiv seksual, mengendalikan keserakahan,  mengendalikan nafsu bermusuhan, malu  melakukan perbuatan tercela dan menghilangkan rasa rendah diri.
Kecerdasan emosional (EQ) pertama kali dilontarkan tahun 1990 oleh Peter Salovy dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire. Istilah EQ menyebar ke berbagai penjuru dunia setelah terbitnya buku best seller karya Daniel Goleman, Emotional Intelligence tahun 1995.
Tentang definisi EQ masih banyak yang belum sepakat. Tetapi Salovy dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional adalah himpunan-bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah dan menggunakan informasi itu untuk membimbing pikiran dan tindakan. 
Kualitas-kualitas EQ ini antara lain; empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah antarpribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan dan sikap hormat. Semua kualitas di ataslah yang lebih banyak berperan dalam kehidupan seseorang untuk meraih sukses. Bahkan Daniel Goleman mengatakan bahwa 80% keberhasilan itu ditentukan oleh kecerdasan emosional.

2.         Kecerdasan Spritual
M.Utsman Najati (2003)  mengatakan bahwa kecerdasan spritual menurut Sunnah Nabi  adalah damai bersama ridha Allah. Kecerdasan spritual  merupakan kemampuan untuk mencerdaskan  rohani dengan  psikoterapi Rasullah antara lain psikoterapi dengan iman, psikoterapi dengan ibadah, terapi melalui Shalat, terapi melalui Puasa, terapi  melalui Haji, terapi  melalui  zikir dan doa, zikir dengan Al Quran, terapi perasaan rasa bersalah, psikoterapi dengan  taubat.
Donah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya “Kecerdasan Spritual” (2001) mengatakan bahwa SQ merupakan kemampuan internal bawaan otak dan jiwa manusia. Kecerdasan spritual (SQ) adalah kecerdasan jiwa. SQ adalah kecerdasan yang dapat membantu kita menyembuhkan dan membangun diri kita secara utuh. SQ merupakan kecerdasan yang berada di bagian diri  terdalam dan ia berhubungan dengan kearifan di luar ego pikiran sadar. SQ adalah kesadaran yang dapat digunakan untuk mengakui nilai-nilai yang telah ada, sekaligus juga secara kreatif menemukan nilai-nilai baru. Oleh karena itu, ia mendahului bentuk ekspresi agama mana pun yang pernah ada. SQ membuat agama mungkin menjadi semakin perlu, tetapi tidak bergantung pada agama. Mungkin saja pada sebagian orang  SQ diungkapkan melalui agama formal, tetapi banyak juga orang yang aktif beragama ternyata memiliki SQ rendah. Selanjutnya dikatakan bahwa SQ memungkinkan manusia menjadi kreatif, mengubah aturan dan situasi.
Pembentukan kecerdasan dari perspektif struktur otak manusia, penajaman kecerdasan intelektual ada pada lapisan neocortex ,  kecerdasan emosional pada lapisan lymbic system  dan kecerdasan SQ ada pada lapisan temporal lobe (god spot). Pertimbangan kecerdasan IQ sebagai faktor utama penentu sukses ditemukan oleh Binet Simon  (1905) yang dikenal dengan test IQ. Sembilan puluh tahun kemudian tepatnya tahun 1995 oleh Daniel Goleman secara ilmiah  menemukan kecerdasan EQ sebagai   penentu sukses, bukan IQ. Kemudian Danah Zohar dan Ian Marshal pada tahun 2001 melengkapi temuan Daniel Goleman bahwa IQ rata-rata hanya 6% dan maksimal 20% sebagai faktor sukses, sehingga 80% adalah faktor lain terutama kecerdasan EQ dan SQ. Zohar (2001)  lebih mempertajam lagi dengan mengemukakan mestinya kecerdasan SQ yang mengendalikan kecerdasan EQ dan IQ.
Guru yang memiliki kecerdasan IQ, EQ dan SQ yang baik serta memiliki pengetahuan  memadai tentang konsep-konsep pendidikan dan pembelajaran harus memiliki dasar keahlian  yang kuat untuk menjadi guru profesional dengan prilaku pedagogis, seperti dikemukakan  Manullang (2004) sebagai berikut:
a.         Guru secara intelektual cepat dan tepat menemukan solusi permasalahan yang dihadapi dalam dunia pendidikan  dan pembelajaran. Guru tetap menyadari bahwa intelektual adalah pembantu yang baik, namun  ia adalah  penguasa yang buruk.
b.         Guru sangat peduli tentang pendidikan dan pembelajaran yang bermutu. Paradigma adalah pendidikan bermutu menjamin negara akan lebih makmur dan sejahtera, bukan sebaliknya, negara makmur menjamin pendidikan bermutu.
c.          Guru memiliki ketulusan, kasih sayang kesabaran dalam peleyanan pendidikan  dan pengajaran. Ia sangat menyadari bahwa siswa sangat membutuhkan kasih sayang, terutama pada saat mereka tidak pantas mendapatkannya.
d.         Guru memiliki kemampuan sinergitas yang tinggi baik dengan murid maupun dengan teman sejawat. Ia menyadari bahwa tidak ada jenius yang tampil sendirian. Jika ada perbedaan dengan orang lain, itu bukan suatu kesalahan namun perbedaan itu adalah sesuatu yang manusiawi.
e.         Guru memiliki kepemimpinan, komitmen dan integritas yang tinggi mengenai visi dan misi pendidikan. Paradigmanya, pendidikan membangun kepribadian bangsa yang terdidik, kepribadian masyarakat yang terdidik, kepribadian institusi yang terdidik, kepribadian keluarga yang terdidik dan kepribadian individu  yang terdidik.

Implementasinya  dalam pembelajaran dapat dihubungkan dengan konsep ketiga otak dalam satu kepala (otak triune) dikemukakan Dr. Paul Maclean dalam Manullang (2004:5) sebagai berikut: Otak manusia terdiri dari Otak Reptil, Otak mamalia dan Otak Neo Corteks. Pada otak reptil orang tidak bisa berpikir  karena yang berperan di sini adalah insting atau cara berpikir dan bertindak  yang terbentuk berdasarkan latihan. Otak reptil akan aktif bila seseorang merasa takut, stres, terancam, marah, kurang tidur atau kondisi tubuh dan pikiran lelah. 
Otak mamalia  berperan dalam mengatur kebutuhan akan keluarga, strata sosial dan  rasa memiliki. Otak ini memberikan arti pada suatu emosi  atau kejadian. Otak ini juga berperan dalam mengendalikan sistem kekebalan tubuh, hormon dan memori jangka panjang.  Sistem limbik yang terdapat pada otak mamalia berperan sebagai saklar untuk menentukan otak mana yang aktif, otak reptil atau neo corteks. Bila dalam keadaan tegang, stres, takut, marah, maka informasi yang diterima otak akan diteruskan ke otak reptil.
Apabila seseorang dalam keadaan bahagia, tenang dan rileks, maka otak neo corteks dapat aktif dan digunakan untuk berpikir. Ketika orang dalam keadaan tegang, stres, takut pada saat ujian maka pikirannya dapat menjadi kosong, tidak  mengingat apa-apa yang sebelumnya dipelajarinya. Otak ini adalah otak berpikir dan merupakan 80% dari otak manusia. Otak ini dapat bekerja efektif dalam belajar bila sebelumnya otak mamalia merasa senang, gembira dan rileks.
Informasi yang diterima  peserta didik akan diterima oleh otak mamalia dan kemudian  mendistribusikannya kepada belahan otak  lainnya. Otak korteks akan terbuka apabila informasi tersebut diterima dengan perasaan tenang dan nyaman. Otak reptil akan menerima informasi apabila menimbulkan stres atau takut. Pembelajaran  baru berhasil bila informasi dapat diterima otak korteks.
Gadner dalam Dryden & Vos  (2000) mengemukakan multi kecerdasan yang antara lain disebut kecerdasan linguistik yakni kemampuan dalam hal membaca, menulis dan berkomunikasi dengan kata-kata. Kecerdasan logika matematika yakni kemampuan untuk menalar dan menghitung. Kecerdasan musikal yakni kecerdasan  yang berkembang pada komposer, konduktor dan musisi terkenal. Kecerdasan spasial dan visual yakni kemampuan yang digunakan oleh arsitek, pematung, pelukis, navigator dan pilot.  Kecerdasan kinestetik (fisik) yakni  kecerdasan yang berkembang pada atlet, penari, pesenam, dan mungkin  para ahli bedah. Kecerdasan intrapersonal (kecerdasan introspektif) yakni kemampuan untuk memiliki wawasan, mengetahui jati diri, jenis kemampuan yang melahirkan intuisi yang luar biasa. Kecerdasan interpersonal yakni kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, jenis kemampuan yang lazin dimiliki oleh penjual, motivator, negosiator.
Penelitian-penelitian tentang otak multi kecerdasan ini akhirnya memberi inspirasi kepada berkembangnya berbagai model  pembelajaran seperti Quantum Teaching, Accelerated Learning  dan lain-lain. Penerapan model ini di Indonesia tidak selalu berhasil karena konteks pembelajaran yang berbeda. Namun demikian pada pembelajaran MKDK, hasil penelitian mengenai  otak dan berbagai jenis pembelajaran ini dapat memberi inspirasi dan modifikasi untuk menemukan pembelajaran yang dapat membangun dasar-dasar sikap profesional guru  sekaligus sebagai pendidik.

8 komentar:

  1. Ass wr.wb
    thanks info tulisan nya pak, bagus untuk dibaca sebagai informasi dan pengetahuan. Saya WARDANA jurusan TP B Pekanbaru pak mau kirim alamat Blog saya :
    http://wardanatpunp.blogspot.com
    terima kasih

    BalasHapus
  2. لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

    Tulisan Bapak diatas sejalan dengan "Pendidikan Karakter" yang sekarang sedang gencar-gencarnya disosialisasikan dalam pembelajaran. Guru dituntut tidak hanya untuk dapat mengoptimalkan kecerdasan intelektual siswa tetapi seorang guru juga dituntut untuk menanamkan nilai-nilai budi pekerti, moral, dan akhlak yang baik.
    Begitu besar peran penting seorang guru dalam pembentukan dan pembangunan karakter bangsa.

    Nama saya Ramadhayani, Jurusan TP Kelas A Pekanbaru.
    Terima kasih,

    BalasHapus
  3. Trims Komentarnya..

    BalasHapus
  4. semoga IES Q bisa diterapkan bagi guru-guru kita ... seiring gencarny pendidikan karakter oleh pemerintah.. semoga ya pak .

    BalasHapus
  5. saya juga sering mendengar bahwa kecerdasan emosional dan spritual lebih menentukan kesuksesan seseorang dibanding kecerdasan intelegensi saja..........
    bagus sekali tulisannya pak
    saya vandi fernandezz, mahasiswa pendidikan IPA pascasarjana UR kerjasama UNP di pekanbaru, semester 4 yang bergabug dengan mahasiswa TP semester 2 nim 51867. saya senang sekali untuk menjadi member di blogg bapak ini bayak manfaat yang tentu bisa kami dapatkan. mohon saya dimasukkan menjadi salah satu member di blogg ini

    BalasHapus
  6. Ass Pak.....Tulisannya sangat ok mksa pak menjadi masukan buat km para guru karena kecerdasan emosional dan spritual harus sejalan akan menunjang kecerdasan intelegensi seseorang.

    BalasHapus
  7. Assalam pak. Disain boggnya mantap sekali pak.Saya tertarik ingin belajar. Kalau ada waktu Bapak, saya ingin belajar mendisain blogg dengan Bapak. Terimakasih.

    BalasHapus
  8. Assalam pak. Terlebih dahulu saya mohon maaf pak. Saya terlambat mengirimkan alamat blogg saya. Berikut alamat blogg saya.
    Nama: Razali
    NIM: 1109875
    Semerter: 2 TP B Pekanbaru
    razalisetyawan.blogspot.com

    BalasHapus